• Selamat datang di website PT Fiqry Jaya Manunggal. Semoga anda senantiasa sehat afiat. Kami siap melayani anda
Beranda » Blog » Kalibrasi Instrumen Industri: Metode, Standar & Best Practice

Kalibrasi Instrumen Industri: Metode, Standar & Best Practice

Diposting pada 21 March 2026 oleh admin / Dilihat: 187 kali / Kategori: ,

Kalibrasi Instrumen Industri: Metode, Standar, dan Best Practice

Di balik setiap proses industri yang berjalan mulus, terdapat program kalibrasi instrumen yang bekerja tanpa terlihat. Satu instrumen yang meleset pengukurannya — meski hanya beberapa persen — dapat menyebabkan produk di luar spesifikasi, pemborosan energi, atau dalam kasus terburuk, insiden keselamatan yang fatal. Oleh karena itu, kalibrasi bukan sekadar rutinitas administratif. Kalibrasi adalah fondasi dari kepercayaan terhadap data proses.

Sayangnya, banyak fasilitas industri mengelola program kalibrasi secara reaktif — hanya mengkalibrasi instrumen setelah ada masalah yang nyata. Padahal, pendekatan proaktif berbasis risiko jauh lebih efektif dan ekonomis dalam jangka panjang. Artikel ini membahas secara komprehensif konsep, metode, standar internasional, dan best practice dalam kalibrasi instrumen industri.

Artikel ini adalah bagian dari seri Panduan Lengkap Instrumentasi dan Kontrol Industri.

Apa Itu Kalibrasi Instrumen?

Kalibrasi adalah proses membandingkan pembacaan instrumen yang sedang diuji (unit under test / UUT) terhadap standar referensi yang tertelusuri (traceable reference standard), lalu mendokumentasikan penyimpangannya. Jika penyimpangan melebihi toleransi yang ditetapkan, dilakukan penyesuaian (adjustment) untuk membawa instrumen kembali ke dalam spesifikasi.

Ada tiga konsep kunci yang harus dipahami dalam kalibrasi:

  • Akurasi — Seberapa dekat pembacaan instrumen terhadap nilai sebenarnya. Akurasi biasanya dinyatakan sebagai persentase dari full scale atau upper range limit.
  • Repeatability — Kemampuan instrumen memberikan pembacaan yang sama secara konsisten ketika mengukur nilai yang sama dalam kondisi yang sama.
  • Traceability — Rantai perbandingan yang tak terputus dari standar kalibrasi hingga ke standar nasional atau internasional (SI unit). Tanpa traceability, hasil kalibrasi tidak memiliki dasar metrologi yang valid.

Dengan demikian, kalibrasi yang valid bukan hanya tentang mengecek angka — tetapi tentang memastikan bahwa angka tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan hukum.

Standar Internasional Kalibrasi Instrumen

Program kalibrasi industri yang profesional harus mengacu pada standar internasional yang diakui. Berikut adalah standar utama yang mengatur kalibrasi instrumen industri.

ISO/IEC 17025: Standar Laboratorium Kalibrasi

ISO/IEC 17025 adalah standar internasional untuk kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi. Standar ini menetapkan persyaratan teknis dan manajemen yang harus dipenuhi laboratorium kalibrasi agar hasil kalibrasinya diakui secara internasional. Akreditasi ISO/IEC 17025 dari badan akreditasi nasional (di Indonesia: KAN — Komite Akreditasi Nasional) adalah bukti kompetensi laboratorium kalibrasi yang paling diakui.

Ketika menggunakan jasa kalibrasi eksternal, selalu pastikan laboratorium tersebut terakreditasi ISO/IEC 17025 untuk besaran dan range yang relevan. Sertifikat kalibrasi dari laboratorium yang tidak terakreditasi tidak memberikan jaminan metrologi yang memadai.

OIML: Metrologi Legal

OIML (Organisation Internationale de Métrologie Légale) menerbitkan rekomendasi internasional untuk metrologi legal — pengukuran yang berdampak pada perdagangan dan regulasi. Untuk instrumen yang digunakan dalam custody transfer (serah terima komoditas berdasarkan pengukuran), kepatuhan terhadap rekomendasi OIML yang relevan seringkali merupakan persyaratan hukum.

EURAMET dan JCGM: Panduan Teknis Kalibrasi

EURAMET (European Association of National Metrology Institutes) menerbitkan panduan teknis kalibrasi (cg-series) untuk berbagai jenis instrumen. Selain itu, JCGM 100:2008 (GUM) — Guide to the Expression of Uncertainty in Measurement — adalah dokumen fundamental untuk evaluasi dan pelaporan ketidakpastian pengukuran (measurement uncertainty) yang menjadi bagian integral dari setiap sertifikat kalibrasi yang valid.

Jenis-Jenis Kalibrasi Instrumen

Berdasarkan lokasi pelaksanaan dan lingkup kerjanya, kalibrasi instrumen dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis yang masing-masing memiliki tujuan dan kondisi aplikasi yang berbeda.

Field Calibration (Kalibrasi Lapangan)

Kalibrasi lapangan dilakukan langsung di lokasi pemasangan instrumen tanpa memindahkannya. Metode ini menggunakan portable calibrator yang dibawa ke lapangan. Keuntungannya adalah tidak memerlukan proses pelepasan instrumen dan downtime yang minimal. Namun, kondisi lapangan (suhu, getaran, kelembapan) dapat mempengaruhi ketelitian kalibrasi dibandingkan kondisi laboratorium yang terkontrol.

Kalibrasi lapangan paling cocok untuk loop check (verifikasi akhir setelah instalasi atau modifikasi), kalibrasi instrumen yang sulit dilepas, dan kalibrasi periodik instrumen dengan persyaratan akurasi menengah.

Workshop Calibration (Kalibrasi Bengkel)

Kalibrasi bengkel dilakukan di ruang kalibrasi yang terkontrol kondisinya. Instrumen dilepas dari proses, dibawa ke bengkel, dikalibrasi menggunakan standar yang lebih akurat dan stabil, lalu dipasang kembali. Metode ini memberikan akurasi dan repeatability yang lebih baik dibandingkan kalibrasi lapangan.

Kalibrasi bengkel diperlukan untuk instrumen kritis (safety-related), instrumen custody transfer, kalibrasi setelah perbaikan besar, dan verifikasi tahunan program kalibrasi.

Kalibrasi Laboratorium Eksternal

Untuk instrumen yang membutuhkan akurasi tertinggi atau traceability formal (seperti standar kalibrasi primer), kalibrasi harus dilakukan di laboratorium terakreditasi ISO/IEC 17025 yang menggunakan standar primer yang tertelusuri ke laboratorium metrologi nasional (BSN di Indonesia, NIST di AS, PTB di Jerman).

Metode Kalibrasi Berdasarkan Jenis Instrumen

Setiap jenis instrumen memiliki prosedur kalibrasi yang spesifik. Berikut adalah panduan metode kalibrasi untuk jenis instrumen yang paling umum di industri proses.

Kalibrasi Pressure Transmitter

Kalibrasi pressure transmitter menggunakan pressure calibrator sebagai standar referensi. Prosedurnya mengikuti langkah-langkah berikut:

  • Persiapan — Pertama, isolasi transmitter dari proses, bleed sisa tekanan, dan bersihkan tapping point. Sambungkan pressure calibrator ke port tekanan transmitter.
  • Zero check — Selanjutnya, verifikasi bahwa output transmitter pada tekanan nol menunjukkan nilai yang benar (4mA untuk 2-wire transmitter).
  • As-found check — Kemudian, aplikasikan tekanan pada beberapa titik (umumnya 0%, 25%, 50%, 75%, 100% dari range) dan catat pembacaan transmitter versus nilai referensi. Ini disebut “as-found” data dan harus didokumentasikan sebelum penyesuaian apapun.
  • Adjustment — Jika penyimpangan melebihi toleransi yang diizinkan, lakukan penyesuaian zero dan span menggunakan HART communicator atau lokal adjustment screw.
  • As-left check — Terakhir, ulangi pengujian setelah penyesuaian untuk memverifikasi instrumen sekarang memenuhi spesifikasi. Dokumentasikan sebagai data “as-left”.

Kalibrasi Temperature Transmitter dan Sensor

Kalibrasi sensor temperatur membutuhkan sumber suhu yang stabil dan akurat. Dua metode utama yang digunakan:

Pertama, dry block calibrator (temperature dry block) — menggunakan blok logam yang dipanaskan atau didinginkan secara presisi. Sensor yang dikalibrasi dimasukkan ke dalam lubang (insert) blok bersama sensor referensi. Metode ini portable dan cocok untuk kalibrasi lapangan.

Kedua, liquid bath calibrator — menggunakan bak cairan yang dikendalikan suhunya dengan sangat presisi (biasanya minyak silikon atau air). Liquid bath memberikan uniformitas suhu yang lebih baik dari dry block sehingga lebih akurat untuk kalibrasi presisi tinggi di bengkel.

Selain itu, untuk kalibrasi temperature transmitter (tanpa melepas sensor dari proses), dapat digunakan temperature simulator yang meniru sinyal RTD atau thermocouple pada nilai suhu tertentu. Metode ini memungkinkan verifikasi transmitter tanpa perlu lingkungan suhu terkontrol.

Kalibrasi Flow Meter

Kalibrasi flow meter adalah yang paling kompleks di antara semua jenis instrumen proses. Idealnya, kalibrasi dilakukan dengan mengalirkan fluida aktual melalui flow meter dengan laju aliran yang terukur secara akurat menggunakan standar referensi (gravimetric master meter atau prover).

Namun, kalibrasi in-situ dengan fluida aktual seringkali tidak praktis. Oleh karena itu, pendekatan alternatif yang banyak digunakan adalah kalibrasi dengan fluida pengganti (air bersih untuk flow meter yang normalnya mengalirkan cairan lain) di fasilitas kalibrasi flow meter yang dilengkapi prover yang tertelusuri.

Program Kalibrasi Berbasis Risiko

Program kalibrasi yang efektif tidak menggunakan interval kalibrasi yang seragam untuk semua instrumen. Sebaliknya, interval kalibrasi harus ditentukan secara individual berdasarkan analisis risiko yang mempertimbangkan beberapa faktor kunci.

Faktor Penentu Interval Kalibrasi

  • Criticality instrumen — Instrumen yang berhubungan langsung dengan keselamatan (safety-critical), kualitas produk, atau custody transfer memerlukan interval kalibrasi yang lebih pendek dibandingkan instrumen indikasi biasa.
  • Riwayat drift historis — Data dari kalibrasi sebelumnya adalah sumber informasi paling berharga. Instrumen yang konsisten menunjukkan drift kecil dapat dikalibrasi lebih jarang. Sebaliknya, instrumen dengan riwayat drift signifikan perlu interval lebih pendek.
  • Kondisi operasi — Instrumen yang beroperasi di lingkungan keras (suhu ekstrem, getaran, media korosif) cenderung mengalami drift lebih cepat. Oleh karena itu, interval kalibrasi lebih pendek diperlukan.
  • Persyaratan regulasi — Beberapa industri memiliki persyaratan kalibrasi yang diatur oleh regulasi, seperti industri farmasi (cGMP), nuklir, dan metrologi legal. Interval yang diwajibkan regulasi tidak dapat dinegosiasi.
  • Rekomendasi pabrikan — Jadikan rekomendasi pabrikan sebagai titik awal, kemudian sesuaikan berdasarkan pengalaman operasional aktual.

Metodologi Penetapan Interval Kalibrasi

Salah satu pendekatan yang paling terstruktur untuk menetapkan dan mengoptimalkan interval kalibrasi adalah metode NCSL International RP-1. Metode ini menggunakan data historis kalibrasi untuk menghitung probabilitas instrumen masih berada dalam toleransi pada akhir interval. Target reliability yang umum digunakan adalah 85–95% in-tolerance probability.

Selain itu, standar ANSI/NCSL Z540.3 memberikan panduan komprehensif tentang manajemen peralatan kalibrasi dan penetapan interval berbasis data.

Dokumentasi dan Manajemen Kalibrasi

Dokumentasi yang baik adalah komponen yang tidak kalah penting dari pelaksanaan kalibrasi itu sendiri. Sertifikat kalibrasi yang lengkap dan sistem manajemen yang terorganisir adalah bukti dari program kalibrasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Isi Sertifikat Kalibrasi yang Lengkap

Sertifikat kalibrasi yang valid harus mencantumkan elemen-elemen berikut:

  • Identifikasi instrumen yang dikalibrasi (tag number, model, serial number, dan range)
  • Identifikasi standar kalibrasi yang digunakan beserta sertifikat traceability-nya
  • Tanggal kalibrasi dan tanggal kalibrasi berikutnya yang dijadwalkan
  • Data as-found dan as-left pada setiap titik pengujian
  • Pernyataan ketidakpastian pengukuran (measurement uncertainty)
  • Kondisi lingkungan saat kalibrasi (suhu dan kelembapan ruangan)
  • Nama dan tanda tangan teknisi kalibrasi yang bertanggung jawab
  • Pernyataan traceability ke standar nasional atau internasional

CMMS dan Digitalisasi Manajemen Kalibrasi

Manajemen program kalibrasi secara manual menggunakan spreadsheet semakin tidak memadai untuk fasilitas dengan ratusan atau ribuan instrumen. Sistem CMMS (Computerized Maintenance Management System) yang terintegrasi dengan modul kalibrasi memberikan beberapa keuntungan signifikan:

  • Notifikasi otomatis — Sistem secara otomatis mengingatkan instrumen yang mendekati jadwal kalibrasi, mengeliminasi risiko missed calibration.
  • Tren analisis drift — Visualisasi tren drift historis per instrumen membantu optimasi interval kalibrasi berbasis data.
  • Audit trail — Rekam jejak lengkap semua aktivitas kalibrasi tersedia untuk keperluan audit dan inspeksi regulasi.
  • Integrasi dengan loop documentation — Sertifikat kalibrasi terhubung dengan dokumentasi loop, P&ID, dan daftar instrumen secara digital.

Uncertainty of Measurement: Memahami Ketidakpastian

Setiap pengukuran mengandung ketidakpastian — tidak ada pengukuran yang sempurna. Memahami dan melaporkan ketidakpastian pengukuran adalah aspek fundamental dari metrologi modern yang sering diabaikan di lingkungan industri.

Ketidakpastian pengukuran berasal dari berbagai sumber, antara lain: keterbatasan resolusi instrumen, ketidakstabilan kondisi lingkungan selama kalibrasi, ketidakpastian standar referensi yang digunakan, dan variabilitas dalam teknik pengukuran teknisi.

Metodologi evaluasi ketidakpastian mengacu pada GUM (Guide to the Expression of Uncertainty in Measurement) yang diterbitkan oleh JCGM. GUM mendefinisikan dua tipe evaluasi: Type A (berbasis analisis statistik dari serangkaian pengukuran) dan Type B (berbasis informasi dari sumber lain seperti spesifikasi pabrikan, sertifikat kalibrasi standar, dan data empiris).

Dalam konteks praktis, rasio yang paling penting adalah Test Uncertainty Ratio (TUR) — perbandingan antara toleransi instrumen yang dikalibrasi dengan ketidakpastian standar kalibrasi yang digunakan. TUR minimal 4:1 (dan idealnya 10:1) adalah persyaratan umum untuk memastikan kualitas kalibrasi yang memadai.

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Kalibrasi Instrumen Industri

1. Apa perbedaan antara kalibrasi dan verifikasi instrumen?

Kalibrasi adalah proses lengkap yang mencakup pengujian, perbandingan dengan standar, dokumentasi, dan penyesuaian jika diperlukan. Sementara itu, verifikasi adalah konfirmasi bahwa instrumen memenuhi persyaratan tertentu — namun tidak selalu melibatkan penyesuaian atau perbandingan terhadap standar yang tertelusuri. Dalam konteks industri farmasi dan regulasi, perbedaan ini memiliki implikasi hukum yang signifikan dan harus dipahami dengan tepat.

2. Bolehkah melakukan penyesuaian (adjustment) tanpa melakukan kalibrasi terlebih dahulu?

Tidak disarankan. Data “as-found” sebelum penyesuaian adalah informasi yang sangat berharga. Data ini menunjukkan apakah instrumen masih dalam toleransi sebelum disentuh, membantu analisis tren drift, dan memberikan bukti bahwa produk yang dibuat sejak kalibrasi terakhir masih memenuhi spesifikasi. Melakukan penyesuaian tanpa mencatat as-found data sama artinya dengan menghapus informasi penting yang tidak dapat diperoleh kembali.

3. Apa yang harus dilakukan ketika instrumen ditemukan out-of-tolerance saat kalibrasi?

Ketika instrumen ditemukan out-of-tolerance (as-found), ada beberapa langkah yang harus segera dilakukan. Pertama, dokumentasikan kondisi as-found secara lengkap sebelum melakukan penyesuaian apapun. Selanjutnya, lakukan analisis dampak — apakah produk atau data proses yang dihasilkan sejak kalibrasi terakhir terpengaruh? Kemudian, jika diperlukan, lakukan product hold atau investigasi untuk menentukan apakah tindakan korektif diperlukan terhadap produk yang sudah keluar. Terakhir, lakukan root cause analysis untuk mencegah berulangnya masalah yang sama.

4. Apakah smart transmitter dengan self-diagnostics masih perlu dikalibrasi?

Ya, tetap perlu. Kemampuan self-diagnostics pada smart transmitter sangat berguna untuk mendeteksi kegagalan perangkat secara internal — seperti kerusakan sensor, masalah elektronik, atau kondisi overrange. Namun, self-diagnostics tidak dapat mendeteksi drift yang terjadi secara gradual pada elemen sensing. Drift gradual hanya dapat dideteksi melalui perbandingan terhadap standar eksternal yang tertelusuri, yaitu melalui kalibrasi. Oleh karena itu, kedua pendekatan ini saling melengkapi, bukan menggantikan satu sama lain.

5. Bagaimana cara memilih portable calibrator yang tepat untuk program kalibrasi lapangan?

Ada beberapa kriteria utama dalam memilih portable calibrator. Pertama, akurasi calibrator harus jauh lebih baik dari instrumen yang dikalibrasi — umumnya TUR minimal 4:1. Selanjutnya, calibrator harus mampu mengukur sekaligus menghasilkan (source) sinyal yang relevan untuk jenis instrumen yang akan dikalibrasi. Selain itu, pertimbangkan kemampuan dokumentasi — calibrator modern dapat menyimpan hasil pengukuran secara digital untuk ditransfer ke sistem manajemen kalibrasi. Terakhir, pastikan calibrator sendiri dikalibrasi secara periodik di laboratorium terakreditasi untuk menjaga traceability-nya.

Kesimpulannya, program kalibrasi instrumen yang efektif adalah kombinasi dari metodologi yang tepat, standar internasional yang dipatuhi, teknisi yang kompeten, dan sistem manajemen yang terorganisir. Investasi dalam program kalibrasi yang baik akan selalu terbayar dalam bentuk kualitas produk yang konsisten, efisiensi proses yang optimal, dan kepatuhan regulasi yang terjaga.

Kalibrasi Instrumen Industri: Metode, Standar & Best Practice

Komentar

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman ini.

Self-Talk Positif

Diposting oleh admin

Pernahkah kamu merasa ada seseorang yang berbisik di telinga? Atau merasakan feeling yang sangat kuat untuk melakukan sesuatu, atau secara reflek bergerak. Dan ternyata hal itu telah menimbulkan dampak positif. Mungkin itu adalah Self-Talk positif yang timbul karena sering berdialog dengan batin kita sendiri untuk kinerja dan kesehatan mental dalam kehidupan. Seolah kita mempunyai teman…

Selengkapnya
24 Dec

5 Langkah Efektif Vendor Management

Diposting oleh admin

5 Langkah Efektif Vendor Management untuk Rantai Pasok yang Tangguh Manajemen vendor yang baik adalah fondasi dari rantai pasok yang lancar, efisien, dan berkelanjutan. Vendor tidak hanya sekadar pemasok barang atau jasa, tetapi juga mitra strategis yang memengaruhi kualitas, biaya, ketepatan waktu, bahkan reputasi perusahaan.Jika hubungan dengan vendor tidak dikelola secara efektif, risiko seperti keterlambatan…

Selengkapnya
13 Aug

Rencana Maintenance Tahunan yang Powerful dan Efektif

Diposting oleh admin

Rencana maintenance tahunan merupakan elemen krusial dalam menjaga keandalan aset, keselamatan kerja, dan keberlanjutan operasional. Tanpa perencanaan yang baik, aktivitas perawatan sering bersifat reaktif, tidak terukur, dan berujung pada downtime tinggi serta pemborosan biaya. Oleh karena itu, rencana maintenance tahunan harus disusun secara sistematis, berbasis data, dan selaras dengan tujuan bisnis organisasi. Artikel ini membahas…

Selengkapnya
3 Jan

Risiko dalam Supply Chain

Diposting oleh admin

Risiko dalam Supply Chain: Tantangan dan Cara Mengelolanya Rantai pasok (supply chain) merupakan sistem yang kompleks, melibatkan pemasok, produsen, distributor, hingga pelanggan akhir. Kompleksitas ini membuat supply chain rentan terhadap berbagai risiko yang dapat mengganggu kelancaran aliran barang, informasi, maupun keuangan. Dalam era globalisasi dan ketidakpastian pasar saat ini, memahami risiko supply chain dan cara…

Selengkapnya
11 Sep

Sustainability dalam Supply Chain

Diposting oleh admin

Mengubah Tantangan jadi Peluang Bisnis Di era kesadaran lingkungan dan regulasi yang makin ketat, sustainability dalam supply chain bukan lagi sekadar nilai tambah — melainkan kebutuhan strategis. Supply chain berkelanjutan tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat reputasi merek, dan membuka peluang inovasi jangka panjang. Mengapa Sustainability Penting dalam Rantai Pasok?…

Selengkapnya
21 Oct

Pengelolaan Anggaran (Budgeting) Proyek dengan Metode Zero-Based

Diposting oleh Dudus Kudus

Pendahuluan: Mengapa Pengelolaan Anggaran Itu Penting? Dalam dunia bisnis dan teknologi yang bergerak cepat saat ini, keberhasilan sebuah proyek seringkali tidak hanya diukur dari kualitas hasil akhir, tetapi juga dari efisiensi pengelolaan sumber daya yang digunakan. Salah satu aspek paling krusial dalam pengelolaan sumber daya adalah Budgeting and Cost Control, atau pengelolaan anggaran. Tanpa perencanaan…

Selengkapnya
27 Jun

BOILER (Pulverizer & Soot blower System)

BACKGROUND: Pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar Batu Bara, Soot Blower dan Pulverizer merupakan alat-alat yang sangat penting. Soot blower berfungsi untuk membersihkan tube pada boiler pada Heat Recovery Area (HRA) yaitu area Superheater, Economizer, Reheat, serta pada Air Heater dari kotoran/slag yang menempel. Sedangkan Pulverizer merupakan penyedia serbuk bahan bakar batu bara…

Rp 7.950.000
Tersedia

Compressor Operation & Maintenance

Background: Kompresor merupakan peralatan vital dalam berbagai sektor industri, khususnya pada industri proses pembangkit listrik, oil & gas, petrokimia, manufaktur, dll. Selain berfungsi sebagai penyedia udara atau gas bertekanan, kompresor berperan langsung dalam menjaga kontinuitas proses produksi, sistem kontrol, serta efisiensi operasi. Pada kompresor sentrifugal, gangguan operasi dapat menyebabkan penurunan kapasitas produksi, peningkatan biaya operasi,…

Rp 7.950.000
Tersedia
Diskon
4%

Juru Ikat (Rigger) – BNSP

Latar Belakang: Proses mengangkat & memindahkan beban dilaksanakan setiap hari dalam setiap kegiatan manusia. Dalam industri, beban ini melibatkan benda yang sangat berat dimana pelaksanakan harus dilaksanakan oleh orang yang kompeten bersetifikat Juru Ikat (Rigger) dari BNSP misalnya. Training & uji kompetensi wajib diikuti oleh setiap tenaga kerja yang bekerja sebagai Juru Ikat (Rigger). Pelatihan…

Rp 6.000.000 Rp 6.250.000
Tersedia

Rig and Equipment Selection

Background: Rig and equipment selection is a critical early decision in drilling planning that directly affects safety, operational efficiency, cost, and overall project success. Inappropriate rig selection can lead to operational limitations, excessive non-productive time (NPT), or increased HSE exposure. For example, lack of appropriate knowledge may wrongly select rig rental company during tender evaluation….

Rp 5.950.000
Tersedia

Hazard & Operability Studies (HAZOPS) & Hazard Identification Study (HAZIDS)

BACKGROUND: HAZOP means hazard studies (HAZARD) & Operability. It is a systematic method of analysis of the operability parameters deviations using a specific vocabulary. The required documents in order to accomplish the study are the equipment sketches (PID, PFDs) and a process description. HAZID- is a utilized technique for the identification of the significant hazards…

Rp 11.950.000
Tersedia

Instrumentation, Electrical and Control System

BACKGROUND: Covers the principles of industrial instrumentation, sensor, signal transmission, interfacing, actuator, process control, the operation of basic PID Controller on PLC and DCS. Describe the electronics of instrument, interface device and controller. Also provides the usually found advanced PID configuration in industrial systems. Simple method for PID controller tuning is also discussed. OBJECTIVES: After…

Rp 7.950.000
Tersedia

Kalibrasi Instrumen Industri: Metode, Standar & Best Practice

Chat with us on WhatsApp
Chat with Us