• Selamat datang di website PT Fiqry Jaya Manunggal. Semoga anda senantiasa sehat afiat. Kami siap melayani anda
Beranda » Blog » Menghitung Cost of Poor Quality (COPQ)

Menghitung Cost of Poor Quality (COPQ)

Diposting pada 3 August 2026 oleh imam / Dilihat: 13 kali

Konsep COPQ layak dipahami oleh setiap orang.  Kemudian menghitung Cost of Poor Quality (COPQ) perlu diketahui oleh management perusahaan, dengan demikian jika dibutuhkan management tahu apa yang harus dilakukan. Dalam manajemen kualitas, perusahaan sering kali lebih fokus menghitung biaya untuk menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas. Namun, ada satu kelompok biaya yang sering luput diperhatikan: biaya yang muncul karena kualitas tidak tercapai. Produk harus dikerjakan ulang, material terbuang, pelanggan melakukan komplain, pekerjaan terlambat, bahkan perusahaan harus memberikan warranty atau penggantian produk.

Biaya-biaya tersebut dikenal sebagai Cost of Poor Quality (COPQ). COPQ bukan hanya persoalan departemen Quality. Dampaknya dapat dirasakan oleh produksi, engineering, procurement, project management, finance, sales, hingga manajemen perusahaan. Karena itu, kemampuan menghitung COPQ penting untuk menunjukkan bahwa masalah kualitas bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga memiliki dampak finansial yang nyata.

1. Apa Itu Cost of Poor Quality (COPQ)?

Cost of Poor Quality adalah biaya yang timbul karena suatu produk, proses, atau layanan tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Secara sederhana:

COPQ = biaya yang harus dikeluarkan karena sesuatu tidak dilakukan dengan benar sejak awal.

Konsep ini sangat dekat dengan prinsip “Do it right the first time.” Ketika pekerjaan dilakukan dengan benar sejak awal, perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki kesalahan.

Sebaliknya, ketika terjadi defect atau nonconformity, akan muncul berbagai biaya tambahan seperti:

  • Scrap atau material yang harus dibuang.
  • Rework atau pekerjaan ulang.
  • Repair atau perbaikan.
  • Additional inspection dan testing.
  • Overtime akibat pekerjaan ulang.
  • Customer complaint handling.
  • Warranty claim.
  • Product return.
  • Penalty akibat keterlambatan.
  • Bahkan kehilangan pelanggan.

Dengan demikian, COPQ memberikan cara untuk menerjemahkan masalah kualitas ke dalam bahasa yang sangat dipahami oleh manajemen: uang.

2. Mengapa COPQ Penting bagi Perusahaan?

Salah satu masalah dalam pengelolaan kualitas adalah bahwa dampak dari poor quality sering terlihat terpisah-pisah.

Misalnya, bagian produksi melihat rework sebesar Rp100 juta sebagai masalah produksi. Quality melihat adanya 50 NCR. Procurement melihat adanya material defect. Project Manager melihat adanya keterlambatan.

Padahal, semua kejadian tersebut mungkin merupakan bagian dari satu masalah yang sama.

Dengan menghitung COPQ, berbagai kejadian tersebut dapat dikonversikan menjadi satu indikator finansial.

COPQ membantu perusahaan untuk:

  • Mengetahui berapa biaya yang disebabkan oleh masalah kualitas.
  • Menentukan masalah kualitas yang paling mahal.
  • Menentukan prioritas improvement.
  • Membandingkan kinerja antarperiode.
  • Mengukur manfaat suatu program improvement.
  • Menunjukkan kontribusi Quality Management terhadap profitabilitas.
  • Membantu manajemen mengambil keputusan berdasarkan data.

Yang menarik, masalah kualitas dengan jumlah kejadian paling banyak belum tentu menjadi masalah dengan biaya terbesar.

Sebaliknya, satu defect yang jarang terjadi dapat memiliki dampak finansial yang sangat besar.

3. Komponen Cost of Poor Quality

Untuk memahami COPQ, kita perlu mengenali terlebih dahulu berbagai jenis biaya yang berhubungan dengan kualitas.

Model yang umum digunakan dalam Cost of Quality (COQ) membagi biaya kualitas menjadi empat kategori:

Kategori Penjelasan
Prevention Cost Biaya untuk mencegah defect
Appraisal Cost Biaya untuk menemukan defect
Internal Failure Cost Biaya akibat defect yang ditemukan sebelum sampai ke pelanggan
External Failure Cost Biaya akibat defect yang ditemukan setelah sampai ke pelanggan

Dari empat kategori tersebut, Internal Failure Cost + External Failure Cost secara langsung merepresentasikan failure cost atau biaya akibat poor quality.

Namun dalam praktik pengelolaan COPQ, perusahaan juga dapat memperluas perhitungannya dengan memasukkan biaya tertentu yang muncul karena aktivitas appraisal tambahan atau aktivitas pencegahan yang dilakukan sebagai respons terhadap masalah kualitas.

3.1 Internal Failure Cost

Internal Failure Cost adalah biaya akibat defect yang ditemukan sebelum produk atau jasa diterima pelanggan.

Contohnya:

  • Scrap material.
  • Rework.
  • Repair.
  • Re-inspection.
  • Retesting.
  • Material replacement.
  • Additional labor.
  • Overtime akibat rework.
  • Production downtime akibat defect.
  • Disposal cost.

Misalnya sebuah perusahaan menemukan bahwa 100 unit produk tidak memenuhi specification sebelum dikirim ke customer.

Produk tersebut masih dapat diperbaiki sehingga tidak sampai ke pelanggan.

Biaya untuk melakukan perbaikan tersebut merupakan Internal Failure Cost.

3.2 External Failure Cost

External Failure Cost biasanya lebih serius karena defect sudah sampai ke pelanggan.

Contohnya:

  • Customer complaint.
  • Product return.
  • Warranty claim.
  • Replacement product.
  • Field repair.
  • Recall.
  • Compensation.
  • Penalty.
  • Customer service handling.
  • Additional transportation.
  • Kehilangan customer.

External failure biasanya juga memiliki hidden cost yang jauh lebih besar.

Misalnya sebuah perusahaan mengeluarkan Rp50 juta untuk menangani warranty claim. Angka tersebut terlihat sebagai biaya langsung.

Tetapi pelanggan yang kecewa mungkin kemudian mengurangi order atau bahkan berpindah ke competitor.

Kehilangan revenue tersebut sering kali tidak tercatat sebagai COPQ, tetapi secara bisnis dampaknya dapat jauh lebih besar.

4. Mana yang Termasuk COPQ dan Mana yang Bukan?

Di sinilah sering terjadi kebingungan.

Tidak semua biaya yang berhubungan dengan Quality otomatis merupakan COPQ.

Misalnya perusahaan memiliki biaya untuk melakukan:

  • Quality inspection.
  • Calibration.
  • Laboratory testing.
  • Quality audit.
  • Supplier audit.

Biaya tersebut diperlukan untuk memastikan kualitas dan umumnya dikategorikan sebagai Appraisal Cost, bukan failure cost.

Demikian juga:

  • Training quality.
  • Preventive maintenance.
  • Process improvement.
  • Design review.

merupakan contoh Prevention Cost.

Gambaran sederhananya:

Cost of Quality

→ Prevention Cost
→ Appraisal Cost
→ Internal Failure Cost
→ External Failure Cost

Sedangkan COPQ terutama berfokus pada biaya yang muncul akibat kegagalan memenuhi persyaratan kualitas.

Dalam praktiknya, perusahaan dapat menetapkan definisi COPQ yang lebih luas sesuai kebutuhan sistem pengukuran mereka. Yang terpenting adalah definisinya konsisten.

5. Data Apa Saja yang Dibutuhkan untuk Menghitung COPQ?

Menghitung COPQ tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit.

Perusahaan dapat memulainya dari data yang sebenarnya sudah tersedia di berbagai departemen.

Beberapa sumber data yang dapat digunakan antara lain:

Production

  • Scrap.
  • Rework.
  • Repair.
  • Downtime.
  • Material rejection.
  • Overtime.

Quality

  • NCR.
  • Defect.
  • Customer complaint.
  • Inspection failure.
  • Retest.
  • Audit findings.

Project

  • Rework.
  • Engineering change akibat error.
  • Delay.
  • Additional manpower.
  • Additional equipment.
  • Penalty.

Procurement

  • Supplier rejection.
  • Material return.
  • Supplier claim.
  • Additional transportation.

Sales & Customer Service

  • Warranty.
  • Product return.
  • Compensation.
  • Complaint handling.

Finance

  • Actual repair cost.
  • Credit note.
  • Penalty.
  • Warranty expense.
  • Scrap value.

Dengan menggabungkan data tersebut, perusahaan dapat mulai membangun COPQ database.

6. Rumus Dasar Menghitung COPQ

Rumus paling sederhana adalah:

COPQ = Internal Failure Cost + External Failure Cost

Misalnya dalam satu tahun perusahaan memiliki:

  • Scrap = Rp100 juta
  • Rework = Rp200 juta
  • Warranty = Rp150 juta
  • Customer complaint = Rp50 juta

Maka:

COPQ = Rp100 juta + Rp200 juta + Rp150 juta + Rp50 juta

COPQ = Rp500 juta

Namun angka Rp500 juta akan menjadi lebih bermakna apabila dibandingkan dengan ukuran bisnis perusahaan.

Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah:

COPQ % = COPQ ÷ Sales × 100%

Jika annual sales perusahaan adalah Rp20 miliar:

COPQ % = Rp500 juta ÷ Rp20 miliar × 100%

COPQ = 2,5% dari annual sales

Angka tersebut jauh lebih informatif bagi manajemen daripada sekadar mengatakan bahwa perusahaan memiliki “Rp500 juta biaya kualitas”.

7. Contoh Perhitungan COPQ

Mari kita gunakan contoh sederhana sebuah perusahaan manufacturing.

Misalkan dalam satu tahun perusahaan memiliki data berikut:

Komponen Biaya
Scrap Rp150 juta
Rework Rp250 juta
Repair Rp100 juta
Additional inspection Rp50 juta
Warranty claim Rp200 juta
Product return Rp100 juta
Customer complaint handling Rp50 juta

Untuk menghitung COPQ, kita pisahkan terlebih dahulu.

Internal Failure

  • Scrap = Rp150 juta
  • Rework = Rp250 juta
  • Repair = Rp100 juta
  • Additional inspection akibat defect = Rp50 juta

Internal Failure = Rp550 juta

External Failure

  • Warranty = Rp200 juta
  • Product return = Rp100 juta
  • Complaint handling = Rp50 juta

External Failure = Rp350 juta

Maka:

COPQ = Rp550 juta + Rp350 juta

COPQ = Rp900 juta

Jika annual sales perusahaan adalah Rp30 miliar:

COPQ % = Rp900 juta ÷ Rp30 miliar × 100%

COPQ = 3% dari annual sales.

Artinya, secara sederhana perusahaan mengeluarkan biaya yang setara dengan 3% dari penjualannya karena masalah kualitas.

8. Menghitung COPQ sebagai Persentase Penjualan

Menggunakan nilai rupiah saja terkadang sulit untuk melakukan benchmarking.

Perusahaan dengan sales Rp1 triliun tentu akan memiliki angka COPQ yang lebih besar dibandingkan perusahaan dengan sales Rp10 miliar.

Karena itu, COPQ sering dinyatakan sebagai persentase terhadap revenue.

COPQ % = COPQ ÷ Revenue × 100%

Contohnya:

Tahun Sales COPQ COPQ %
2024 Rp20 M Rp800 jt 4,0%
2025 Rp25 M Rp875 jt 3,5%
2026 Rp30 M Rp900 jt 3,0%

Walaupun nilai COPQ secara nominal meningkat dari Rp800 juta menjadi Rp900 juta, performa kualitas sebenarnya membaik jika dilihat terhadap revenue.

COPQ turun dari 4,0% menjadi 3,0%.

Ini menunjukkan mengapa indikator rasio sering lebih berguna daripada melihat nominal saja.

9. Contoh: Mengubah Data Quality Problem Menjadi Nilai Rupiah

Salah satu tantangan dalam menghitung COPQ adalah mengubah data kualitas menjadi biaya.

Misalnya ditemukan 200 unit produk harus dirework.

Biayanya bukan hanya biaya material.

Perusahaan perlu menghitung seluruh resource yang digunakan.

Contoh:

  • Direct labor = Rp20 juta
  • Material = Rp30 juta
  • Machine utilization = Rp10 juta
  • Overtime = Rp5 juta
  • Retesting = Rp5 juta

Maka:

Total Rework Cost = Rp70 juta

Jadi jangan hanya mencatat:

Rework = 200 units.

Tetapi ubah menjadi:

Rework = 200 units = Rp70 juta.

Dengan cara ini, Quality Department dapat menunjukkan financial impact dari masalah kualitas.

Pendekatan yang sama dapat diterapkan untuk berbagai jenis defect:

Defect → Activity → Resource → Cost

Misalnya:

NCR → Rework → 500 man-hours → Rp75 juta

atau:

Material rejection → Replacement → New material + transportation → Rp120 juta

Dengan pendekatan tersebut, data Quality dapat dihubungkan langsung dengan data Finance.

10. Hidden Cost: Biaya Kualitas yang Sering Tidak Terlihat

Inilah bagian yang sering membuat angka COPQ sebenarnya jauh lebih besar daripada yang terlihat di laporan.

Bayangkan sebuah project mengalami kesalahan engineering.

Akibatnya:

  • Drawing harus direvisi.
  • Material sudah terlanjur dibeli.
  • Fabrication harus diulang.
  • Engineer harus melakukan redesign.
  • Supervisor harus melakukan additional inspection.
  • Schedule menjadi terlambat.
  • Contractor membutuhkan overtime.

Tidak semua biaya tersebut mungkin tercatat dengan label “Quality Cost”.

Namun semuanya terjadi karena suatu persyaratan tidak dipenuhi dengan benar sejak awal.

Hidden cost dapat berupa:

  • Lost productivity.
  • Idle manpower.
  • Idle equipment.
  • Management time.
  • Additional meeting.
  • Schedule delay.
  • Loss of opportunity.
  • Customer dissatisfaction.
  • Damage to company reputation.

Karena itu, perusahaan sebaiknya membedakan:

Visible COPQ

dan

Hidden COPQ

Visible COPQ relatif mudah dihitung karena memiliki transaksi atau invoice yang jelas.

Hidden COPQ membutuhkan estimasi berdasarkan waktu, resource, productivity loss, atau opportunity cost.

11. Bagaimana Menggunakan COPQ untuk Improvement?

Menghitung COPQ bukan tujuan akhir.

Nilai terbesar dari COPQ adalah ketika angka tersebut digunakan untuk menentukan prioritas improvement.

Misalnya perusahaan memiliki 100 jenis defect. Tidak semuanya perlu ditangani dengan prioritas yang sama.

Setelah dihitung:

Problem Frequency COPQ
Defect A 500 Rp50 juta
Defect B 100 Rp300 juta
Defect C 50 Rp500 juta
Defect D 1.000 Rp20 juta

Jika hanya melihat frequency, Defect D terlihat paling penting.

Tetapi jika menggunakan financial impact, Defect C justru menjadi prioritas.

Di sinilah konsep Pareto Analysis sangat berguna.

Perusahaan dapat mengurutkan:

Problem → COPQ → Ranking → Improvement Priority

Misalnya ditemukan bahwa 20% jenis masalah menghasilkan 80% COPQ.

Maka perusahaan dapat memfokuskan improvement resources pada masalah tersebut.

COPQ juga dapat digunakan untuk mengukur hasil improvement.

Misalnya:

Before Improvement

COPQ = Rp1,2 miliar/tahun

After Improvement

COPQ = Rp700 juta/tahun

Maka saving yang diperoleh:

Rp1,2 miliar − Rp700 juta = Rp500 juta/tahun

Angka tersebut dapat menjadi dasar untuk menghitung Return on Improvement Investment.

12. Kesalahan Umum dalam Menghitung COPQ

Walaupun konsepnya sederhana, implementasinya sering menghadapi beberapa masalah.

1. Hanya menghitung scrap

Scrap memang mudah dihitung, tetapi COPQ jauh lebih luas daripada scrap.

2. Tidak menghitung labor cost

Rework membutuhkan manpower. Waktu yang digunakan tersebut memiliki nilai finansial.

3. Mengabaikan overtime

Overtime akibat rework merupakan biaya tambahan yang seharusnya diperhitungkan.

4. Mengabaikan external failure

Warranty, return, complaint, dan compensation dapat menjadi komponen COPQ yang signifikan.

5. Menganggap semua Quality Cost sebagai COPQ

Inspection dan training quality misalnya, tidak otomatis merupakan failure cost.

6. Tidak memasukkan hidden cost

Delay, idle time, lost productivity, dan management time sering kali tidak terlihat dalam laporan COPQ.

7. Tidak melakukan trending

Angka COPQ satu periode saja belum banyak memberikan informasi.

Lebih baik perusahaan memonitor:

COPQ → Monthly → Quarterly → Yearly

sehingga dapat terlihat apakah kualitas benar-benar membaik.

8. Menghitung COPQ tetapi tidak melakukan improvement

Ini mungkin kesalahan yang paling penting.

Jika perusahaan sudah mengetahui bahwa suatu masalah menyebabkan COPQ Rp500 juta per tahun tetapi tidak melakukan tindakan perbaikan, maka proses pengukuran tersebut belum menghasilkan manfaat maksimal.

COPQ seharusnya menjadi input untuk improvement, bukan sekadar KPI.

Dari Quality Problem Menjadi Business Problem

Cost of Poor Quality memberikan perspektif yang menarik dalam Quality Management. Sebuah defect yang awalnya terlihat sebagai persoalan teknis dapat diterjemahkan menjadi dampak finansial yang konkret. Dengan menghitung scrap, rework, repair, warranty, complaint, return, delay, dan berbagai failure cost lainnya, perusahaan dapat mengetahui berapa besar biaya yang sebenarnya hilang akibat kualitas yang tidak tercapai.

Lebih jauh lagi, COPQ membantu mengubah cara pandang terhadap Quality. Quality bukan sekadar memenuhi specification atau mendapatkan sertifikat ISO, tetapi juga bagaimana perusahaan mengurangi pemborosan dan melindungi profitabilitas. Semakin kecil biaya yang harus dikeluarkan akibat poor quality, semakin banyak sumber daya yang dapat digunakan untuk menghasilkan value bagi pelanggan dan perusahaan. Karena itu, menghitung COPQ bukan hanya aktivitas Quality Department, tetapi merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk improve performance, reduce waste, dan ultimately improve profitability.

Menghitung Cost of Poor Quality (COPQ)

Komentar

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman ini.

Strategi Efisiensi Operasi Produksi di Era Digital

Diposting oleh Dudus Kudus

Strategi Efisiensi Operasi Produksi di Era Digital Di tengah pesatnya laju perkembangan teknologi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, efisiensi operasi produksi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan mutlak bagi setiap organisasi, baik skala kecil maupun besar. Era digital telah mengubah lanskap bisnis secara fundamental, memaksa perusahaan untuk beradaptasi, berinovasi, dan mengoptimalkan setiap aspek…

Selengkapnya
29 Jun

Membawa Kehidupan Menuju Era Pintar

Diposting oleh admin

Manfaat IoT dalam Kehidupan Sehari-hari: Inovasi Teknologi untuk Hidup Lebih Efisien Dalam beberapa tahun terakhir, Internet of Things (IoT) telah berkembang pesat, menghubungkan berbagai perangkat yang kita gunakan sehari-hari ke internet, memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dan bertindak secara otomatis. Kehadiran teknologi ini secara signifikan mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Berikut…

Selengkapnya
18 Sep

Membangun Ketahanan: Pentingnya Manajemen Kontinuitas Bisnis

Diposting oleh admin

Dalam dunia bisnis yang terus berubah dan penuh tantangan, kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi menjadi kunci sukses. Salah satu cara terbaik untuk mencapai ketahanan ini adalah melalui Manajemen Kontinuitas Bisnis (BCM). Artikel ini akan membahas pentingnya BCM dan langkah-langkah untuk membangunnya dalam organisasi Anda. Apa itu Manajemen Kontinuitas Bisnis? Manajemen Kontinuitas Bisnis adalah proses yang…

Selengkapnya
28 Oct

Simbol B3 dan Artinya di Industri Migas

Diposting oleh admin

Dalam industri minyak dan gas (migas), penggunaan bahan kimia merupakan bagian penting dari berbagai proses operasional seperti pengeboran, pemrosesan minyak, hingga pemeliharaan peralatan. Banyak dari bahan tersebut termasuk dalam kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sehingga harus ditangani dengan prosedur keselamatan yang ketat. Untuk memudahkan identifikasi risiko, setiap bahan B3 biasanya dilengkapi dengan simbol bahaya….

Selengkapnya
16 Apr

Pengelolaan Limbah Ash Berkelanjutan

Diposting oleh admin

Limbah ash atau abu merupakan salah satu produk samping utama dari proses pembakaran, khususnya pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara (PLTU) maupun berbagai industri seperti semen, metalurgi, dan manufaktur. Jenis limbah ini umumnya terdiri dari fly ash dan bottom ash, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan. Pengelolaan limbah…

Selengkapnya
25 Mar

Pengembangan Kompetensi : Konsep, Strategi dan Efek

Diposting oleh admin

Pengembangan Kompetensi di Tempat Kerja: Konsep, Strategi, dan Efek Pendahuluan Meskipun terdapat harapan besar dan banyaknya sumber daya yang diinvestasikan dalam peningkatan kemampuan di tempat kerja, masih terdapat kekurangan dalam penelitian empiris mengenai hal ini. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menyajikan tinjauan tentang strategi pengembangan kompetensi dalam organisasi, prasyarat, dan efek yang dihasilkan….

Selengkapnya
25 Oct

Coal Dust Explosion

Background & Objectives: Coal dust explosion is one of the most hazardous risks in coal-fired power plants & coal handling facilities. Fine coal particles are highly combustible & under certain conditions, can lead to catastrophic explosions when exposed to ignition sources. The risk becomes even more critical as operations scale up & involve large quantities…

Rp 6.350.000
Tersedia

Business Continuity Management

BACKGROUND: In today’s fast-paced and interconnected world, businesses face an array of challenges, from natural disasters to cyberattacks and global pandemics. Business Continuity Management (BCM) is a critical discipline that helps organizations identify potential threats and mitigate their impact. By implementing a structured BCM framework, businesses can ensure that critical operations continue to function during…

Rp 7.950.000
Tersedia

Integrity Chemical Treatment and Selection

Background: Dalam industri migas, Integrity Chemical Treatment & Management menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan operasi, efisiensi produksi, dan keselamatan kerja. Salah satu aspek penting dalam pengelolaan integritas aset adalah pemilihan dan penggunaan chemical treatment. Treatment ini  tepat untuk mengatasi berbagai tantangan seperti emulsi, wax, scale, korosi, dan pembentukan hydrate. Ketepatan dalam diagnosis dan penanganan…

Rp 7.950.000
Tersedia

Boiler & System Operation

BACKGROUND: Boiler system operation is something the operator should be technically capable to operate as this is considered as HPHT (High Pressure High Temperature) equipment. Therefore, the operation team should be those who are competent to handle the job. Boiler & System Operation training is designed to teach the maintenance and safe operation of boiler…

Rp 7.950.000
Tersedia

Technical Projects Documents Management

BACKGROUND: Every good project produces documentation that is well organized and easy to find. Return when information is needed to proceed to the next project phase or operation/maintenance process. It can be done manually although using software is much better. Nevertheless, it is very important that it shall exist & well managed   OBJECTIVES: This…

Rp 7.950.000
Tersedia

Preventive & Predictive Maintenance

BACKGROUND: Paradigma bahwa maintenance yang selama ini dianggap bagian dari produksi telah berubah dan saat ini maintenance menjadi bagian dari strategi dan bisnis yang menentukan keberhasilan suatu perusahaan dalam menciptakan system perusahaan ber availiability tinggi karena efektifitas yang menyeluruh pada perusahaan ditentukan oleh availiability, sedangkan seperti telah diketahui bersama bahwa availiability ditentukan oleh lamanya uptime…

Rp 7.950.000
Tersedia

Menghitung Cost of Poor Quality (COPQ)

Chat with us on WhatsApp
Chat with Us