- Selamat datang di website PT Fiqry Jaya Manunggal. Semoga anda senantiasa sehat afiat. Kami siap melayani anda
Drilling Non-productive Time
Oil & Gas Drilling Non-Productive Time dalam industri Minya, Gas dan Panas Bumi (Geothermal)
Drilling adalah proses pengeboran yang bertujuan menembus lapisan batuan untuk mencapai formasi yang mengandung hidrokarbon seperti minyak dan gas. Aktivitas ini mencakup seluruh tahap proyek mulai dari survei dan desain, persiapan lokasi, mobilisasi rig, pengeboran, logging, evaluasi, hingga completion. Pengeboran merupakan salah satu proses paling kompleks, mahal, berisiko, dan jangka panjang dalam kegiatan eksplorasi & produksi minyak dan gas.
Perkiraan biaya drilling per sumur tergantung pada beberapa faktor utama yang umum. Biaya drilling tergantung antara lain kedalaman sumur, lokasi (onshore atau offshore), kompleksitas geologi, teknologi yang digunakan, serta kondisi lingkungan dan logistik. Sebagai gambaran umum, biaya pengeboran onshore di Indonesia dapat berkisar antara USD 5 juta sampai USD 10 juta per sumur untuk kedalaman 2.000 hingga 3.500 meter. Untuk offshore, biaya bisa melonjak hingga USD 20 juta sampai lebih dari USD 40 juta tergantung pada kondisi laut dan kedalaman. Data dari proyek drilling di Indonesia menunjukkan biaya per sumur onshore terkadang lebih hemat melalui optimisasi seperti cluster drilling, di mana beberapa sumur dibor dari satu lokasitas untuk mengurangi biaya tapak dan perlengkapan.
Pembagian Majors Milestone Drilling
Aktivitas drilling dapat dibagi menjadi beberapa tahapan atau milestone utama yang biasa dilakukan baik di onshore maupun offshore:
-
Perencanaan & Survei – Survei geologi, desain sumur, izin lingkungan, studi risiko.
-
Persiapan Tapak – Pembersihan lokasi, pembangunan jalan, fasilitas pendukung, logistik.
-
Mobilisasi Rig – Transportasi, rig up, rig down, dan persiapan peralatan.
-
Pengeboran Primer – Penembusan lubang bor ke zona target, casing, dan cementing awal.
-
Kontrol Teknis dan Kesulitan – Mengatasi tekanan tinggi (HPHT), kehilangan sirkulasi, kolaps lubang.
-
Logging & Evaluasi – Wireline logging, LWD, pengambilan sampel, dan evaluasi formasi.
-
Well Completion – Pemasangan casing produksi, perf, dan persiapan produksi.
-
Demobilisasi – Rig down dan pemindahan ke lokasi berikutnya.
Setiap tahapan ini rawan mengalami keterlambatan dan kendala teknis, yang sering kali berakibat pada terjadinya Non-Productive Time (NPT) atau lost time dalam proyek pengeboran.
Apa Itu Non-Productive Time (NPT) dan Pentingnya Menghindarinya
Non-Productive Time (NPT) adalah waktu yang hilang selama kegiatan pengeboran akibat kejadian tak terduga atau masalah teknis, sehingga tidak memberikan kemajuan pada penetrasi sumur. NPT adalah salah satu indikator penting untuk mengukur efisiensi dan biaya proyek. Dalam beberapa survei industri, NPT dapat menyumbang 10% hingga 30% dari total waktu proyek dan berkontribusi besar terhadap pembengkakan biaya.
Menurut hasil studi oleh Universitas Islam Riau tahun 2024, rata-rata NPT pada 50 sumur di lapangan BR mencapai lebih dari 18% dari total waktu pengeboran, terutama disebabkan oleh masalah rig moving dan loss circulation yang masuk kategori risiko tinggi (red risk).
NPT harus dihindari karena tiga alasan utama:
-
Biaya Operasi yang Tinggi – Setiap jam rig tidak produktif dapat memicu pemborosan jutaan dolar.
-
Keterlambatan Produksi – Penundaan dalam penyelesaian sumur berarti pendapatan minyak dan gas tertunda.
-
Risiko Kontrak – Keterlambatan dapat menyebabkan penalti dari operator atau investor yang membiayai proyek.
Jenis-Jenis Drilling Non-Productive Time (DNPT)
DNPT dibagi menjadi beberapa kategori utama, tergantung pada penyebab dan karakteristiknya. Berikut adalah klasifikasi umum yang sering digunakan oleh perusahaan pengeboran besar, termasuk referensi dari Drilling Contractors Association:
1. Hole Problems
Merupakan aktivitas NPT yang terjadi akibat kondisi lubang bor yang bermasalah seperti runtuhan (hole collapse), formasi tidak stabil, atau perubahan tekanan mendadak. Akibatnya, tim pengeboran harus melakukan pembersihan lubang, reaming, atau peningkatan mud weight untuk menstabilkan lubang.
2. Stuck Pipe
Salah satu penyebab NPT paling umum. Situasi ini terjadi ketika pipa bor terjebak atau terjepit (stuck) di dalam lubang akibat kerusakan formasi, penyempitan lubang, atau penumpukan material. Proses fishing atau pembebasan pipa dapat memakan waktu berjam-jam.
3. Downhole Tool Failure
Kegagalan alat di dasar sumur seperti bit, motor bore, atau steering tool menyebabkan waktu kehilangan karena perbaikan, pergantian alat (tripping), dan retesting sebelum pengeboran dapat dilanjutkan.
4. Equipment Failure (Rig Repair)
Kerusakan sistem rig, pompa lumpur (mud pumps), sistem hidrolik, atau rig controls dapat menghentikan seluruh kegiatan pengeboran. Perbaikan rig ini sering menjadi penyebab NPT penting, terutama pada proyek offshore.
5. Waiting Time
Waktu henti akibat faktor eksternal seperti cuaca buruk, pelabuhan tertutup, izin atau regulasi yang tertunda, atau keterlambatan pengiriman material dan logistik. Dalam kondisi tertentu, waktu tunggu bisa lebih dari 25% dari total NPT.
6. Rig Moving (RMV)
Waktu yang dihabiskan untuk relokasi rig dari satu sumur ke sumur berikutnya merupakan bagian dari NPT. Pada operasi offshore, rig moving termasuk critical event karena mobilisasi yang kompleks dan biaya tinggi.
Kehilangan sirkulasi lumpur (mud loss) saat penetrasi formasi retak atau berpori membuat tim harus menyesuaikan mud weight atau melakukan wellbore strengthening sebelum pengeboran dilanjutkan.
8. Hole Cleaning / Lag Time
Penurunan laju pengeboran karena efek hole cleaning, drag, dan gesekan dapat memperlambat kemajuan. Waktu ini termasuk NPT jika laju penurunan melebihi batas toleransi.
Data dan Statistik NPT di Indonesia
Beberapa studi menunjukkan bahwa tingkat NPT di Indonesia bervariasi tergantung pada kondisi lapangan dan rig. Sebagai contoh, penelitian pada proyek onshore drilling di Lapangan BR mencatat bahwa rig moving dan loss circulation menyumbang persentase tertinggi NPT, dengan risiko kategori Red (unacceptable risk). Sementara itu, analisis data dari 60 rig onshore global memperlihatkan 19 jenis NPT dengan total perhitungan waktu setahun mencapai lebih dari 37.000 jam, mengakibatkan kerugian melebih USD 61 juta per tahun.
Drilling adalah proses inti dalam dunia minyak dan gas, namun rawan terhadap NPT yang dapat memperburuk efisiensi dan mengguncang biaya operasional. Dengan memahami jenis-jenis DNPT seperti hole problems, stuck pipe, equipment failure, rig moving, dan lain-lain, perusahaan pengeboran dapat melakukan pencegahan melalui perencanaan yang matang, penggunaan teknologi prediktif, pelatihan personel, dan implementasi manajemen risiko yang ketat.
Pengurangan NPT tidak hanya menghemat biaya tetapi juga mempercepat pencapaian target produksi—sesuatu yang sangat krusial untuk proyek migas skala besar dan keberlanjutan industri energi nasional.
Drilling Non-productive Time
Manajemen Kontrak Proyek
Diposting oleh adminPendahuluan Dalam dunia proyek, kontrak adalah dasar hubungan antara pemilik proyek dan pelaksana. Kontrak mengatur ruang lingkup pekerjaan, biaya, jadwal, serta hak dan kewajiban masing-masing pihak. Tanpa manajemen kontrak yang baik, proyek berisiko menghadapi perselisihan, keterlambatan, bahkan kerugian besar. Oleh karena itu, manajemen kontrak proyek menjadi salah satu disiplin penting dalam manajemen proyek modern. Apa…
SelengkapnyaAudit Maintenance Tahunan
Diposting oleh adminAudit Maintenance Tahunan: Kunci Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan Dalam dunia industri dan pengelolaan fasilitas, keberhasilan sebuah program pemeliharaan tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering kegiatan maintenance dilakukan, tetapi juga seberapa baik proses tersebut dievaluasi dan ditingkatkan secara berkala. Di sinilah pentingnya audit maintenance tahunan—sebuah proses sistematis untuk menilai efektivitas, efisiensi, dan kepatuhan terhadap standar dalam…
SelengkapnyaBehavior-Based Safety: Pendekatan Modern HSE di Industri
Diposting oleh adminBehavior-Based Safety: Pendekatan Modern HSE Keselamatan dan kesehatan kerja (HSE – Health, Safety, and Environment) terus berkembang mengikuti dinamika industri modern. Di tengah tuntutan produktivitas, efisiensi, dan kepatuhan regulasi, perusahaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan prosedur dan alat pelindung diri. Diperlukan pendekatan yang menyentuh akar permasalahan kecelakaan kerja: perilaku manusia. Salah satu metode yang semakin…
SelengkapnyaRencana Maintenance Berkala
Diposting oleh adminRencana Maintenance Berkala: Fondasi Keandalan Aset Industri Dalam dunia industri yang sarat dengan persaingan, keandalan peralatan menjadi faktor krusial untuk menjaga produktivitas, efisiensi biaya, serta keamanan kerja. Salah satu kunci dalam menjaga performa aset adalah dengan menyusun Rencana Maintenance Berkala (Scheduled Maintenance Plan). Tanpa rencana yang sistematis, kegiatan perawatan cenderung bersifat reaktif, yang justru berujung…
SelengkapnyaPiping and Pipeline Color Coding
Diposting oleh Teguh Imam SantosoPiping and Pipeline Color Coding (pewarnaan system perpipaan) dalam industri memiliki peran penting dalam keselamatan dan efisiensi operasional. Pengkodean warna membantu terutama pekerja dan mungkin juga kaum awam, untuk dapat mengenali isi pipa dengan cepat, mengurangi risiko kecelakaan akibat kesalahan identifikasi. Standar internasional seperti ANSI/ASME A13.1, ISO 14726, dan API RP 14E memberikan pedoman penggunaan…
SelengkapnyaManajemen Kontrak Bisnis – 1
Diposting oleh Teguh Imam SantosoKunci Keberhasilan Proyek dan Operasi Bisnis Apakah Contract Management Manajemen kontrak bisnis (contract management) adalah suatu proses sistematis dalam mengelola kontrak dari tahap perencanaan, negosiasi, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Biasanya Kontrak Manajemen diperlukan dalam kondisi dimana jumlah kontrak yang dijalankan sudah cukup banyak, atau sedikit tetapi nilainya sangat besar. Atau juga bisa juga karena…
Selengkapnya
>



Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman ini.