• Selamat datang di website PT Fiqry Jaya Manunggal. Semoga anda senantiasa sehat afiat. Kami siap melayani anda
Beranda » Blog » Drilling Non-productive Time

Drilling Non-productive Time

Diposting pada 8 October 2025 oleh Teguh Imam Santoso / Dilihat: 431 kali / Kategori: ,

Oil & Gas Drilling Non-Productive Time dalam industri Minya, Gas dan Panas Bumi (Geothermal)

Drilling adalah proses pengeboran yang bertujuan menembus lapisan batuan untuk mencapai formasi yang mengandung hidrokarbon seperti minyak dan gas. Aktivitas ini mencakup seluruh tahap proyek mulai dari survei dan desain, persiapan lokasi, mobilisasi rig, pengeboran, logging, evaluasi, hingga completion. Pengeboran merupakan salah satu proses paling kompleks, mahal, berisiko, dan jangka panjang dalam kegiatan eksplorasi & produksi minyak dan gas.

Perkiraan biaya drilling per sumur tergantung pada beberapa faktor utama yang umum. Biaya drilling tergantung antara lain kedalaman sumur, lokasi (onshore atau offshore), kompleksitas geologi, teknologi yang digunakan, serta kondisi lingkungan dan logistik. Sebagai gambaran umum, biaya pengeboran onshore di Indonesia dapat berkisar antara USD 5 juta sampai USD 10 juta per sumur untuk kedalaman 2.000 hingga 3.500 meter. Untuk offshore, biaya bisa melonjak hingga USD 20 juta sampai lebih dari USD 40 juta tergantung pada kondisi laut dan kedalaman. Data dari proyek drilling di Indonesia menunjukkan biaya per sumur onshore terkadang lebih hemat melalui optimisasi seperti cluster drilling, di mana beberapa sumur dibor dari satu lokasitas untuk mengurangi biaya tapak dan perlengkapan.

Pembagian Majors Milestone Drilling

Aktivitas drilling dapat dibagi menjadi beberapa tahapan atau milestone utama yang biasa dilakukan baik di onshore maupun offshore:

  1. Perencanaan & Survei – Survei geologi, desain sumur, izin lingkungan, studi risiko.

  2. Persiapan Tapak – Pembersihan lokasi, pembangunan jalan, fasilitas pendukung, logistik.

  3. Mobilisasi Rig – Transportasi, rig up, rig down, dan persiapan peralatan.

  4. Pengeboran Primer – Penembusan lubang bor ke zona target, casing, dan cementing awal.

  5. Kontrol Teknis dan Kesulitan – Mengatasi tekanan tinggi (HPHT), kehilangan sirkulasi, kolaps lubang.

  6. Logging & Evaluasi – Wireline logging, LWD, pengambilan sampel, dan evaluasi formasi.

  7. Well Completion – Pemasangan casing produksi, perf, dan persiapan produksi.

  8. Demobilisasi – Rig down dan pemindahan ke lokasi berikutnya.

Setiap tahapan ini rawan mengalami keterlambatan dan kendala teknis, yang sering kali berakibat pada terjadinya Non-Productive Time (NPT) atau lost time dalam proyek pengeboran.

Apa Itu Non-Productive Time (NPT) dan Pentingnya Menghindarinya

Non-Productive Time (NPT) adalah waktu yang hilang selama kegiatan pengeboran akibat kejadian tak terduga atau masalah teknis, sehingga tidak memberikan kemajuan pada penetrasi sumur. NPT adalah salah satu indikator penting untuk mengukur efisiensi dan biaya proyek. Dalam beberapa survei industri, NPT dapat menyumbang 10% hingga 30% dari total waktu proyek dan berkontribusi besar terhadap pembengkakan biaya.

Menurut hasil studi oleh Universitas Islam Riau tahun 2024, rata-rata NPT pada 50 sumur di lapangan BR mencapai lebih dari 18% dari total waktu pengeboran, terutama disebabkan oleh masalah rig moving dan loss circulation yang masuk kategori risiko tinggi (red risk).

NPT harus dihindari karena tiga alasan utama:

  • Biaya Operasi yang Tinggi – Setiap jam rig tidak produktif dapat memicu pemborosan jutaan dolar.

  • Keterlambatan Produksi – Penundaan dalam penyelesaian sumur berarti pendapatan minyak dan gas tertunda.

  • Risiko Kontrak – Keterlambatan dapat menyebabkan penalti dari operator atau investor yang membiayai proyek.

Jenis-Jenis Drilling Non-Productive Time (DNPT)

DNPT dibagi menjadi beberapa kategori utama, tergantung pada penyebab dan karakteristiknya. Berikut adalah klasifikasi umum yang sering digunakan oleh perusahaan pengeboran besar, termasuk referensi dari Drilling Contractors Association:

1. Hole Problems

Merupakan aktivitas NPT yang terjadi akibat kondisi lubang bor yang bermasalah seperti runtuhan (hole collapse), formasi tidak stabil, atau perubahan tekanan mendadak. Akibatnya, tim pengeboran harus melakukan pembersihan lubang, reaming, atau peningkatan mud weight untuk menstabilkan lubang.

2. Stuck Pipe

Salah satu penyebab NPT paling umum. Situasi ini terjadi ketika pipa bor terjebak atau terjepit (stuck) di dalam lubang akibat kerusakan formasi, penyempitan lubang, atau penumpukan material. Proses fishing atau pembebasan pipa dapat memakan waktu berjam-jam.

3. Downhole Tool Failure

Kegagalan alat di dasar sumur seperti bit, motor bore, atau steering tool menyebabkan waktu kehilangan karena perbaikan, pergantian alat (tripping), dan retesting sebelum pengeboran dapat dilanjutkan.

4. Equipment Failure (Rig Repair)

Kerusakan sistem rig, pompa lumpur (mud pumps), sistem hidrolik, atau rig controls dapat menghentikan seluruh kegiatan pengeboran. Perbaikan rig ini sering menjadi penyebab NPT penting, terutama pada proyek offshore.

5. Waiting Time

Waktu henti akibat faktor eksternal seperti cuaca buruk, pelabuhan tertutup, izin atau regulasi yang tertunda, atau keterlambatan pengiriman material dan logistik. Dalam kondisi tertentu, waktu tunggu bisa lebih dari 25% dari total NPT.

6. Rig Moving (RMV)

Waktu yang dihabiskan untuk relokasi rig dari satu sumur ke sumur berikutnya merupakan bagian dari NPT. Pada operasi offshore, rig moving termasuk critical event karena mobilisasi yang kompleks dan biaya tinggi.

7. Lost Circulation

Kehilangan sirkulasi lumpur (mud loss) saat penetrasi formasi retak atau berpori membuat tim harus menyesuaikan mud weight atau melakukan wellbore strengthening sebelum pengeboran dilanjutkan.

8. Hole Cleaning / Lag Time

Penurunan laju pengeboran karena efek hole cleaning, drag, dan gesekan dapat memperlambat kemajuan. Waktu ini termasuk NPT jika laju penurunan melebihi batas toleransi.

Data dan Statistik NPT di Indonesia

Beberapa studi menunjukkan bahwa tingkat NPT di Indonesia bervariasi tergantung pada kondisi lapangan dan rig. Sebagai contoh, penelitian pada proyek onshore drilling di Lapangan BR mencatat bahwa rig moving dan loss circulation menyumbang persentase tertinggi NPT, dengan risiko kategori Red (unacceptable risk). Sementara itu, analisis data dari 60 rig onshore global memperlihatkan 19 jenis NPT dengan total perhitungan waktu setahun mencapai lebih dari 37.000 jam, mengakibatkan kerugian melebih USD 61 juta per tahun.

Drilling adalah proses inti dalam dunia minyak dan gas, namun rawan terhadap NPT yang dapat memperburuk efisiensi dan mengguncang biaya operasional.  Dengan memahami jenis-jenis DNPT seperti hole problems, stuck pipe, equipment failure, rig moving, dan lain-lain, perusahaan pengeboran dapat melakukan pencegahan melalui perencanaan yang matang, penggunaan teknologi prediktif, pelatihan personel, dan implementasi manajemen risiko yang ketat.

Pengurangan NPT tidak hanya menghemat biaya tetapi juga mempercepat pencapaian target produksi—sesuatu yang sangat krusial untuk proyek migas skala besar dan keberlanjutan industri energi nasional.

Drilling Non-productive Time

Komentar

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman ini.

Pengelolaan Limbah Ash Berkelanjutan

Diposting oleh admin

Limbah ash atau abu merupakan salah satu produk samping utama dari proses pembakaran, khususnya pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara (PLTU) maupun berbagai industri seperti semen, metalurgi, dan manufaktur. Jenis limbah ini umumnya terdiri dari fly ash dan bottom ash, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan. Pengelolaan limbah…

Selengkapnya
25 Mar

Statistical Process Control (SPC)

Diposting oleh admin

Dalam dunia industri modern, konsistensi kualitas merupakan kunci utama keberhasilan operasional. Perusahaan tidak hanya dituntut untuk menghasilkan produk sesuai spesifikasi, tetapi juga memastikan proses produksi berjalan stabil dan terkendali. Salah satu metode yang banyak digunakan untuk tujuan tersebut adalah Statistical Process Control (SPC). SPC merupakan pendekatan berbasis statistik yang digunakan untuk memantau, mengendalikan, dan meningkatkan…

Selengkapnya
11 Feb

Mengenal Grit dan Cara Membangunnya untuk Kesuksesan

Diposting oleh admin

Mengenal Grit dan Cara Membangunnya untuk Kesuksesan Pendahuluan Kesuksesan sering kali dikaitkan dengan kecerdasan, bakat, atau keberuntungan. Namun, penelitian menunjukkan ada faktor lain yang jauh lebih menentukan: grit. Istilah ini dipopulerkan oleh Angela Duckworth, seorang psikolog dari University of Pennsylvania, dalam bukunya Grit: The Power of Passion and Perseverance. Grit bukan sekadar kerja keras, melainkan…

Selengkapnya
30 Sep

Perbandingan Kompresi Mesin

Diposting oleh Teguh Imam Santoso

Perbandingan kompresi (mesin) dalam dunia otomotif adalah rasio antara volume total silinder (piston berada di titik mati bawah (TMB)) dibandingkan dengan volume ruang bakar ketika piston berada di titik mati atas (TMA). Rumus Perbandingan Kompresi (CR – Compression Ratio): Di mana: Vtotal = Volume total silinder saat piston di TMB (Titik Mati Bawah) Vclearance = Volume…

Selengkapnya
7 Mar

Supply Chain Resilience

Diposting oleh admin

Supply Chain Resilience adalah membangun rantai pasok yang tangguh dan adaptif. Pandemi COVID-19 mengekspos kelemahan fatal dari rantai pasok global yang terlalu dioptimasi untuk efisiensi biaya tanpa mempertimbangkan ketangguhan. Kelangkaan semiconductor yang melumpuhkan industri otomotif, kekacauan logistik container, dan keterlambatan pasokan bahan baku ke pabrik-pabrik di seluruh dunia menunjukkan betapa rentannya model just-in-time yang diterapkan…

Selengkapnya
9 Mar

Alignment dan Balancing

Diposting oleh admin

Alignment dan Balancing Ketidakseimbangan (imbalancing) dan ketidakselarasan (misalignment) dalam mesin atau peralatan berputar adalah salah satu penyebab utama kerusakan peralatan. Kondisi ini menyebabkan getaran tinggi dan tekanan mekanis yang dapat mengakibatkan keausan dini pada komponen, serta secara signifikan mengurangi umur pakai dan ketersediaan peralatan. Manfaat dari alignment dan balancing (poros dan pompa) yang tepat meliputi…

Selengkapnya
15 Dec

Design Thinking dalam Engineering Project

Artikel ini membahas secara mendalam penerapan Design Thinking dalam konteks proyek engineering. Pelajari bagaimana pendekatan ini dapat meningkatkan inovasi, memecahkan masalah kompleks, dan mencapai hasil yang lebih efektif. Temukan manfaat utama serta langkah-langkah implementasinya.

*Harga Hubungi CS

Hubungan Industrial dan Human Resources Management

BACKGROUND: Hubungan Industrial (HI) dan Human Resources Management (HRM) adalah dua elemen penting dalam pengelolaan sumber daya manusia di perusahaan. HI berfokus pada menciptakan hubungan yang harmonis antara perusahaan, karyawan, dan serikat pekerja, sementara HRM bertujuan untuk mengelola potensi karyawan secara strategis agar mendukung tujuan perusahaan. Di era globalisasi dan perkembangan regulasi ketenagakerjaan yang dinamis,…

Rp 7.950.000
Tersedia

Relay Protection

BACKGROUND: Relay adalah Saklar (Switch) yang dioperasikan secara listrik dan merupakan komponen Electromechanical (Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama yakni Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal (seperangkat Kontak Saklar/Switch). Relay menggunakan Prinsip Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar sehingga dengan arus listrik yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang bertegangan lebih tinggi. Sebagai contoh, dengan Relay…

Rp 7.950.000
Tersedia

Lifting Operation Oil & Gas

BACKGROUND: Lifting operation adalah usaha yang dilakukan oleh production engineer dan tim production engineer untuk mengangkat minyak dan gas dari dasar sumur ke permukaan, baik melalui sumur sumur alam (natural flow) mau pun sumur – sumur buatan (artificial lift). Biasanya artificial lift yang sering digunakan adalah Gas Lift well, Sucker Rod Pump well, Electric Submersible…

Rp 14.950.000
Tersedia

Maintenance & Repair Process: Strategi Efektif Tingkatkan Keandalan Aset

Background Dalam dunia industri, efektivitas proses maintenance dan repair sangat menentukan keandalan aset, kelancaran produksi, serta pengendalian biaya operasional. Banyak organisasi masih menghadapi masalah seperti downtime tinggi, perbaikan berulang, pekerjaan reaktif, serta kurangnya standar kerja yang jelas dalam proses maintenance dan repair. Proses maintenance dan repair yang tidak terstruktur sering menyebabkan inefisiensi, pemborosan sumber daya,…

Rp 7.950.000
Tersedia

RAM (Reliability, Availability, and Maintainability)

BACKGROUND: Studi RAM digunakan sebagai cara untuk menilai kemampuan sistem produksi (plant), baik yang beroperasi maupun yang masih dalam fase desain. Karena fasilitas & plant digunakan untuk jangka waktu yang lebih lama, Studi Reliability, Availability, dan Maintainability mampu memberikan assessment ke dalam asset life time capabilities & memungkinkan bisnis untuk memaksimalkan laba atas investasi. RAM…

Rp 7.950.000
Tersedia

Drilling Non-productive Time

Chat with us on WhatsApp
Chat with Us